In the name of Allah the most beneficient and the most gracious
Asslamu'alaikum wr. wb
first time, let's thank to Allah the Almighty that has given the mercy and the blessing until we can meet in this place.
secondly, shalawat and salam we deliver to our prophet Muhammad peace be upon him who has brought us from the darkness to the lightness and from the jahiliyah era to the modern era.
thirdly, I say to thank you very much for our supervisor who has given me a several time to standing in front of you all.
oke my loving brother...
I will talking about is jihad the sixth pillar of Islam.
some people say jihad is the sixth pillar of Islam, is it true or not ? it is well, known that there are five pillar of Islam and jihad is not one of them. rather, jihad is the peak of Islam. some scholars have designated jihad as the sixth pillar of Islam. but there is no prove to support this opinion.
Ibn Umar reported: the messenger of Allah swt
"Islam is built upon five: to worship Allah and to disbelieve in what is worshiped besides him, to establish prayer, to give charity, to perform hajj pilgrimage to the house, and to fast the month of ramadan." -shahih bukhari- muttafaqun alaihi.
I repeat again, that jihad is not one pillar of Islam. but jihad is peak of Islam.
Maybe that all for me, if there is mistake I'm so sorry. and the last..
Wassalamu'alaikum wr.wb
Wikipedia
Hasil penelusuran
Minggu, 01 Februari 2015
Makalah Sosiologi
MAKALAH
Ilmu Alamiah Dasar/Ilmu
Sosial Dasar/Ilmu Budaya Dasar
(IAD/ISD/IBD)
Judul : Sosiologi
Dosen Pembimbing : Ruslan,
M.P.d.I
DI SUSUN OLEH :
MUHAMMAD FATHUL HUDA AMIN
MUHAMMAD ULIL ABSHOR
PENDAHULUAN
Ilmu Alamiah Dasar/Ilmu Sosial Dasar/Ilmu Budaya Dasar
LATAR BELAKANG
Manusia selalu mengadakan hubungan ke mana pun dan di mana pun secara berulang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar hubungan itu berjalan dengan baik, maka dalam berperilaku manusia senantiasa berpedoman pada nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Nilai dan norma yang dimiliki setiap masyarakat tidak sama. Dengan menyadari persamaan dan perbedaannya, serta keikutsertaan kita dalam hubungan sosial memberikan gambaran tentang ilmu sosiologi.
Sosiologi bermaksud untuk mengkaji kejadian-kejadian dalam masyarakat, yaitu perbuatan manusia yang selanjutnya berusaha untuk mendatangkan perbaikan dalam kehidupan bersama. Istilah sosiologi pertama kali digunakan Auguste Comte untuk mempelajari keadaan masyarakat Eropa pada saat itu. Sosiologi sebagai ilmu mulai dikenal sejak abad ke-19 dengan melepaskan diri dari filsafat.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia dalam kehidupan. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk, tumbuh, dan berubahnya kumpulan-kumpulan manusia yang hidup bersama itu, serta kepercayaan, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap perilaku hidup manusia.
Singkatnya, sosiologi merupakan ilmu masyarakat atau ilmu kemasyarakatan yang mempelajari manusia sebagai anggota golongan atau masyarakat (tidak sebagai individu yang terlepas dari golongan atau masyarakat), serta ikatan-ikatan adat, kebiasaan, kepercayaan atau agama, tingkah laku, dan kesenian atau kebudayaan masyarakat tersebut[1].
PEMBAHASAN
A. DEFINISI SOSIOLOGI
Istilah sosiologi secara etimologis berasal dari kata Latin socius yang berarti ‘teman, kawan’, dan logos yang berasal dari kata Yunani yang berarti ‘ilmu’. Jadi apakah yang dimaksud sosiologi? Merujuk pada arti dua kata tersebut, maka sosiologi berarti ilmu tentang teman. Dalam arti yang lebih luas, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat.
Istilah ini pertama kali digunakan oleh Auguste Comte pada tahun 1839, seorang ahli filsafat berkebangsaan Prancis. Auguste Comte adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah tersebut sebagai pendekatan khusus untuk mempelajari masyarakat. Selain itu, dia juga memberi sumbangan yang begitu penting terhadap sosiologi. Oleh karena itu para ahli sepakat untuk menyebutnya sebagai ‘Bapak Sosiologi’.
Beberapa pengertian sosiologi menurut para ahli :
· Auguste Comte : “Sosiologi adalah suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.”[2]
· Pitirim A. Sorokin : “sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.”[3]
· Roucek dan Warren : “sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.”
· Emile Durkheim : “Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yaitu fakta-fakta atau kenyataan yang berisikan cara bertindak, cara perpikir dan cara merasakan sesuatu.”[4]
· Max Webber : “Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.”[5]
· Herbert Spencer : “sosiologi adalah Ilmu yang menyelidiki tentang susunan-susunan dan proses kehidupan sosial sebagai suatu keseluruhan / suatu sistem.”[6]
· Soerjono Soekanto: “sosiologi adalah ilmu sosial yang kategoris, murni, astrak, berusaha mencari perhatian secara umum, rational, dan empiris serta bersifat umum.”[7]
· Mayor Polak : “sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia satu dengan manusia lain, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik kelompok formal maupun kelompok informal atau baik kelompok statis maupun kelompok dinamis.”[8]
Dari beberapa paparan pendapat diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa ilmu sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara manusia satu dengan manusia yang lain, manusia dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok yang bersifat umum di dalam kehidupan bermasyarakat.
Sosiologi jelas
merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Ciri-ciri utama dari
sosiologi,yaitu:
a. Sosiologi bersifat empiris yang berarti ilmu pengetahuan tersebut
didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya
tidaak bersifat spekulatif.
b. Sosiologi bersifat teoretis yang
berarti ilmu pengetahuan yang berusaha untuk menyusun abstarksi dari
hasil-hasil observasi. Abstraksi merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun
secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebb akibat
sehingga menjadi teori.
c. Sosiologi bersifat kumulatif yang
berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah
ada dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.
d. Sosiologi bersifat non-ethis
yakni yang dipersoalkan bukanlah buruk-baiknya fakta tertentu, tetapi yang
tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebu secara analitis.[9]
Dilihat dari sifat-sifat hakikatnya sosiologi adalah sebagai berikut :
· Sosiologi merupakan suatu ilmu sosial
· Sosiologi bukan merupakan disiplin ilmu yang normatif, tetapi disiplin yang kategoris artinya membatasi diri dari kejadian dewasa ini bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi; (membatasi diri pada/terhadap penilaian, tidak memberi petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan, baik/buruk, benar/salah, dan bersaangkutan dengan nilai-nilai kemanusiaan; bukan filsafat kemasyarakatan, filsafat politik, etika atau agama).
· Sosiologi termasuk pure-science bukan ilmu pengetahuan penerapan (applied science).
· Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak bukan ilmu pengetahun yang konkrit artinya yang diperhatikan bentuk dan pola peristiwa-peristiwa dalam masyarakat.
· Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian dan pola-pola umum dan mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum daripada interaksi manusia, perihal sifat hakekat, bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
· Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rational, hal ini menyangkut soal metode yang digunakan.
· Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum, bukan ilmu pengetahuan yang khusus.[10]
B. PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
· Fase pertama
Dimulai dari zaman keemasan filsafat Yunani; plato dalam “politon”-nya mengejarkan mengenai warga negara dan masyarakat, yaitu bahwa warga negara harus memelihara keadilan.
Menurut Aristoteles “kesatuan lebih penting daripada bagian-bagiannya, dan kesatuan ini harus berdasarkan idealisme kesusilaan. Thomas Aquino (1225-1274) juga menerima pendapat Aristoteles dengan memberi pembedaan yang kemudian menjadi sangat penting untuk pertumbuhan fikiran sosial, yakni pembedaan antara lex naturalis (tata tertib kodrat kehidupan dunia) dan lex devina (wahyu yang lebih langsung dari kehendak tuhan).[11]
· Fase kedua
1. Abad Pencerahan rintisan kelahiran sosiologi
pada abad ke 17 M, tokohnya GALILEO GALILEI dan ISAAC NEWTON merasa ini penggerak IP modern. Pada masa ini perubahan yang terjadi dalam masyarakat harus dijelaskan secara rasional ( masuk akal ) dengan menggunakan metode ilmiah.
2. Abad revolusi : pemicu lahirnya Sosiologi
Pengaruh Amerika (1776)
Pemerintahan demokratis merupakan gagasan para pemikiran eropas seperti JOHN LUCKE, ROUSSEAU, dan MOSTEQUEIUE, berhasilnya revolusi Amerika membuktikan bahwa gagasan kedaulatan rakyat dan pentingnya Hak Asasi Manusia memang dapat dilaksanakan. Hal ini membangkitkan semangat demokrasi dikalangan rakyat Eropa.
· Fase ketiga
i. Pengaruh Revolusi Industri (sejak awal abad 18 M)
Mulai dari Inggris, terjadi perubahan besar dalam cara memproduksi : dari tenaga manusia ke tenaga mesin. Dari industri rumah tangga ke industri pabrik, dari produksi kecil ke industri massal. Perubahan ini membawa pengaruh pada kehidupan ekonomi dan kehidupan bermasyarakat yang terbagi atas dua kelas social :
a. Kaum kapitalis / Pemilik modal, yang merintis systestem ekonomi liberal.
b. Kaum buruh / pekerja, yang merintis sosialisme sebagai reaksi liberalisme
ii. Pengaruh revolusi perancis
Revolusi perancis menguatkan tersebarnya semangat liberalisme disegala bidang kehidupan, baik ekonomi, politik dan sosial, yang mengakibatkan adanya kesadaran akan HAM yang dijamin hukum[12].
Ciri fase ketiga ini, ialah sosiologi yang berdiri sendiri dengan metode tunggal, yaitu positivisme ilmu pengetahuan.
· Fase keempat
Pada abad ke-19 M. Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya obyek yang dijadikan fokus pembahasan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan metode-metode ilmu-ilmu yang lain (ilmu ekonomi misalnya)[13]. Sosiologi walaupun masih muda usianya, tetapi sudah dapat berdiri sendiri, artinya sudah merupakan ilmu pengetahuan berdiri sendiri dan sudah mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, terutama dengan anthropologi dengan psychologi.[14] Kemudian pada abad ke-20 M sosiologi dapat benar-benar dianggap mandiri karena:
· Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia,
· Mampu mengembangkan teori-teori sosiologi,
· Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi
· Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak mendasarkan dan memperhatikan masukan dari sosiologi.[15]
Perkembangan sosiologi di Indonesia
Sementara itu perkembangan sosiologi di Indonesia sendiri yaitu sejak jaman kerajaan di Indonesia sebenarnya para raja dan pemimpin di Indonesia sudah mempraktikkan unsur-unsur Sosiologi dalam kebijakannya begitu pula para pujangga Indonesia. Ki Hajar Dewantoro, merupakan pelopor utama pendidikan nasional di Indonesia, memberikan sumbangan di bidang sosiologi terutama mengenai konsep-konsep kepemimpinan dan kekeluargaan di Indonesia yang dengan nyata di praktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa[16].
Unsur-unsur sosiologi tidak digunakan dalam suatu ajaran atau teori yang murni sosiologis, tetapi sebagai landasan untuk tujuan lain, yaitu ajaran tata cara hubungan antarmanusia dan pendidikan.
Sekolah tinggi hukum (reachtshogeschool) di jakarta pada waktu itu merupakan satu-satunya lembaga perguruan tinggi yang sebelum perang dunia kedua memberikan kuliah-kulliah sosiologi di Indonesia.
Pada tahun-tahun 1934/1935 kuliah-kuliah sosiologi pada sekolah tinggi hukum tersebut justru ditiadakan karena pada waktu itu guru besar yang memegang tanggung jawab dalam menyusun daftar kuliah berpendapat bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi didalamnya tidak diperlukan dalam hubungan dengan pelajaran hukum. Menurut mereka yang perlu diketahui adlah hukum positif, yaitu peraturan-peraturan yang berlaku dengan sah pada suatu waktu dan suatu tempat tertentu.
Didalam tingkat perkembangan sosiologi yang demikian itu, dimana teori yang diutamakan sedangkan ilmunya belum dianggap penting untuk dipelajari sendiri, tidak diharapkan berkembangnya penelitian sosiologis yang mencoba menemukan kenyataan-kenyataan sosiologi dalam masyarakat Indonesia.[17]
C. MACAM-MACAM TEORI SOSIOLOGI
teori-teori sosiologi dikelompokan dalam enam madzhab :
1. Madzhab Geografi dan Lingkungan
Diantara sekian banyaknya teori-teori yang dapat digolongkan kedalam madzhab ini hanya ajaran-ajaran dari Edward Buckle (Inggris;1821-1862) dan Le Play (Prancis;1806-1888). Didalam hasil karyanya yang berjudul History of Ciivilization in England “masyarakat bisa berkembang apabila ada tempat berpijak dan tempat untuk hidup”[18].
2. Madzhab Organis dan Evolusioner
Dadang supardan(155-156) menjelaskan bahwasannya dalam buku yang berjudul principles of sociology (1876-1896) Herbert Spencer, seorang sosiologi inggris mengemukakan Teori Evolusi Sosial sebagai berikut:
“Masyarakat yang merupakan suatu organisme, berevolusi menurut pertumbuhan manusia seperti tubuh yang hidup, masyarakat bermula seperti kuman yang berasal dari massa yang dalam, segala hal dapat dibandingkan dengan massa itu dan sebagian diantaranya akhirnya dapat didekati”. (Spencer dalam Lauer, 2003:80).[19]
William Graham Sumner (1840-1910). Pada dasarnya ia menganut pemikiran survival of the fittest dalam memahami dunia sosial. Seperti Spencer, ia melihat manusia berjuang melawan lingkungannya dan yang paling kuatlah yang akan berhasil mempertahankan hidupnya. Sistem teoritis ini cocok dengan perkembangan kapitalisme karena menyediakan legitimasi teoritis bagi ketimpangan kekuasaan dan kekayaan yang ada.[20]
3. Madzhab Formal (pengaruh dari Immanuel Kant)
Georg Simmel : “untuk menjadi warga masyarakat perlu mengalami proses individualisasi dan sosialisasi”.
Leopold von Wiese : “soisologi memusatkan perhatian pada hubungan antara manusia tanpa mengaitkan dengan tujuan/kaidah.
4. Madzhab Psikologi
Gabriel Tarde : “menjelaskan gejala sosial dalam kerangka reaksi psikis seseorang”.
Richard H.Cooley : “mengembangkan konsep primary group”.
L. T Hob House : “memusatkan perhatian pada kondisi psikologis kehidupan sosial”.
5. Madzhab Ekonomi
Karl Max : “mempergunakan metode sejarah dan filsafat untuk membangun suatu teori perubahan”.
M Weber : “mengungkapkan tentang empat tipe ideal aksi sosial”.
6. Madzhab Hukum
Durkheim : “hukum yang dihubungkan dengan jenis-jenis solidaritas dalam masyarakat”.
M Weber : “mengenai empat tipe ideal hukum”.
L.M Friedman dan Daniel S.Lev : “sosiologi hukum”.[21]
PENUTUP
Kesimpulan
1. Definisi Sosiologi
Istilah sosiologi secara etimologis berasal dari kata Latin socius yang berarti ‘teman, kawan’, dan logos yang berasal dari kata Yunani yang berarti ‘ilmu’. Dalam arti yang lebih luas, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia di dalam masyarakat.
Pendapat para pakar sosiologi tentang pengertian sosiologi :
· Auguste Comte : “Sosiologi adalah suatu studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis.”
· Pitirim A. Sorokin : “sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.”
· Max Webber : “Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.”
· Herbert Spencer : “sosiologi adalah Ilmu yang menyelidiki tentang susunan-susunan dan proses kehidupan sosial sebagai suatu keseluruhan / suatu sistem.”
· Soerjono Soekanto: “sosiologi adalah ilmu sosial yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari perhatian secara umum, rational, dan empiris serta bersifat umum”.
Penulis dapat menyimpulkan dari beberapa pengertian sosiologi menurut beberapa pakar sosiologi bahwa ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara manusia satu dengan manusia yang lain, manusia dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok yang bersifat umum di dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Perkembangan sosiologi dibagi dalam beberapa fase :
Fase Pertama : pada zaman keemasan filsafat Yunani kuno
Fase Kedua : 1. Abad pencerahan rintisan kelahiran sosiologi
2. Abad revolusi, pemicu lahirnya sosiologi (pengaruh dari Amerika Serikat)
Fase Ketiga : 1.Pengaruh revolusi industri (sejak awal abad 18M)
2.Pengaruh revolusi Perancis
Fase Keempat : pada abad ke-20 M sosiologi dapat benar-benar dianggap mandiri karena:
· Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia,
· Mampu mengembangkan teori-teori sosiologi,
· Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi,
· Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak mendasarkan dan memperhatikan masukan dari sosiologi.
3. Macam-Macam Teori Sosiologi
teori-teori sosiologi dikelompokan dalam enam madzhab :
a) Madzhab Geografi dan Lingkungan
b) Madzhab Organis dan Evolusioner
c) Madzhab Formal (pengaruh dari Immanuel Kant)
d) Madzhab Psikologi
e) Madzhab Ekonomi
f) Madzhab Hukum
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto, Soerjono. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2007.
Saputra, M. Nata SH. Pengantar sosiologi, Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.
http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html/16:57 wib/16-Maret-2014.
http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html/17:02 wib/16-Maret-2014.
http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_Sosiologi/17:00 wib/16-Maret-2014.
http://i4os.wordpress.com/2011/07/24/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli/16:55 wib/16-Maret-2014.
http://dheriot.blogspot.com/2013/09/lengkap-perkembangan-sosiologi-dan.html/13:00 wib/ 10-April-2014.
http://www.dee-nesia.com/2012/12/sejarah-perkembangan-sosiologi.html#sthash.A1IohH78.dpuf/17:01wib/ 16-Maret-2014.http://afristagealgeol-ririn10052110007.blogspot.com/2011/10/sosiologi-sebagai-ilmu.html/17:06wib/16-Maret-2014.
http://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2013/02/17/265/21:25wib/27-Maret-2014.http://teorisosiologi.blogspot.com/22:15wib/10-April-2014.
[1] http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html.
[2] http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_Sosiologi
[4] http://i4os.wordpress.com/2011/07/24/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli
[5] http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html
[6] http://i4os.wordpress.com/2011/07/24/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli
[7] M. Nata
Saputra SH. Pengantar sosiologi, Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.Hlm.34
[8]http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html
[9] Soerjono
Soekanto. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo Persada,
2007. Hlm.13
[10] M. Nata Saputra SH. Pengantar sosiologi,
Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.Hlm.34
[11] Ibid,
hlm 9
[12] http://dheriot.blogspot.com/2013/09/lengkap-perkembangan-sosiologi-dan.html
[13] http://www.dee-nesia.com/2012/12/sejarah-perkembangan-sosiologi.html#sthash.A1IohH78.dpuf/
[14] M. Nata Saputra SH. Pengantar sosiologi,
Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.Hlm. 12
[15] http://www.dee-nesia.com/2012/12/sejarah-perkembangan-sosiologi.html#sthash.A1IohH78.dpuf/
[17]
Soerjono Soekanto. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo
Persada, 2007. Hlm.50
[18] Ibid.
Hlm.32
[19] http://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2013/02/17/265
[20] http://teorisosiologi.blogspot.com
[21]
Soerjono Soekanto. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo
Persada, 2007. Hlm.42
[1] http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html.
[2] http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_Sosiologi
[4] http://i4os.wordpress.com/2011/07/24/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli
[5] http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html
[6] http://i4os.wordpress.com/2011/07/24/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli
[7] M. Nata
Saputra SH. Pengantar sosiologi, Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.Hlm.34
[8]http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-sosiologi-menurut-para-ahli.html
[9] Soerjono
Soekanto. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo Persada,
2007. Hlm.13
[10] M. Nata Saputra SH. Pengantar sosiologi,
Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.Hlm.34
[11] Ibid,
hlm 9
[12] http://dheriot.blogspot.com/2013/09/lengkap-perkembangan-sosiologi-dan.html
[13] http://www.dee-nesia.com/2012/12/sejarah-perkembangan-sosiologi.html#sthash.A1IohH78.dpuf/
[14] M. Nata Saputra SH. Pengantar sosiologi,
Yogyakarta : Multi Aksara, 1982.Hlm. 12
[15] http://www.dee-nesia.com/2012/12/sejarah-perkembangan-sosiologi.html#sthash.A1IohH78.dpuf/
[17]
Soerjono Soekanto. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo
Persada, 2007. Hlm.50
[18] Ibid.
Hlm.32
[19] http://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2013/02/17/265
[20] http://teorisosiologi.blogspot.com
[21]
Soerjono Soekanto. sosiologi suatu pengantar, jakarta : PT RajaGrafindo
Persada, 2007. Hlm.42
Langganan:
Postingan (Atom)
